Antara yang Merenung dan yang Tersinggung


Ada kalimat lama yang entah kenapa belakangan ini sering muncul lagi di beranda media sosial. Kalimat itu dinisbatkan kepada Imam Syafii, salah satu imam mazhab yang hidup lebih dari seribu dua ratus tahun lalu. Bunyinya kurang lebih begini: saat kamu menyampaikan kebenaran, kamu akan menuai dua reaksi. Orang cerdas akan merenung, orang bodoh akan tersinggung.

Saya sendiri tidak sedang ingin membahas siapa yang cerdas dan siapa yang bodoh. Itu wilayah yang terlalu tinggi untuk saya, dan terlalu riskan untuk dijadikan bahan candaan. Yang lebih menarik bagi saya adalah bagian keduanya: soal perumpamaan lalat, bunga, dan sampah. Karena di situlah, saya merasa, pesan Imam Syafii jadi terasa sangat personal dan sedikit menusuk.

Kebenaran Itu Tidak Selalu Enak

Kita semua tahu rasanya menyampaikan sesuatu yang benar, tapi kemudian didengar oleh orang yang tidak siap. Entah itu menegur teman soal utang yang belum dibayar, mengingatkan rekan kerja soal deadline, atau sekadar memberi tahu bahwa ada yang salah dalam cara seseorang memperlakukan orang lain. Niatnya baik. Caranya mungkin sudah dipikirkan matang-matang. Tapi hasilnya? Kadang tidak sesuai harapan.

Ada yang diam, lalu beberapa hari kemudian datang kembali dengan kepala dingin. Itulah yang mungkin dimaksud Imam Syafii sebagai "merenung." Bukan berarti langsung setuju, tapi setidaknya memberi ruang bagi kebenaran itu untuk masuk dan diolah. Ada juga yang langsung meledak, merasa diserang, lalu sibuk mencari pembenaran sendiri. Itulah yang disebut "tersinggung."

Imam Syafii sendiri, dalam riwayat lain, pernah mengatakan sesuatu yang senada. Beliau menyebut bahwa orang yang berakal akan bertanya tentang apa yang ia ketahui dan apa yang belum ia ketahui, lalu memantapkan yang sudah jelas dan mempelajari yang belum jelas. Sementara orang bodoh, katanya, akan marah ketika diajari dan merasa gengsi untuk belajar . Jadi sebenarnya bukan soal cerdas atau bodoh dalam arti intelektual. Ini soal kesiapan hati untuk menerima koreksi.

Lalat, Bunga, dan Sampah

Bagian tentang lalat dan bunga itu, sejujurnya, bukan kutipan yang saya temukan dalam kitab-kitab klasik. Kalimat itu lebih sering beredar di media sosial sebagai semacam parafrase atau pengembangan dari pesan Imam Syafii tentang reaksi terhadap kebenaran . Tapi justru di situ letak kekuatannya. Perumpamaan itu sederhana, agak kasar, tapi sangat akurat menggambarkan kenyataan.

Bayangkan seekor lalat. Ia bisa terbang ke mana saja. Ada bunga yang harum, berwarna indah, penuh nektar. Ada juga sampah yang membusuk, penuh bakteri, dan berbau tidak sedap. Lalat akan condong ke mana? Ke sampah. Bukan karena sampah lebih baik, tapi karena memang itu yang sesuai dengan nalurinya. Bunga tidak pernah salah, sampah juga tidak pernah mengklaim dirinya lebih baik. Persoalannya ada pada si lalat.

Demikian pula ketika kebenaran disampaikan. Kebenaran itu seperti bunga. Ia tidak selalu harus disukai, tapi ia punya nilai intrinsik yang tidak berubah hanya karena ada yang memilih untuk tidak melihatnya. Orang yang hatinya masih terbuka akan melihat nilai itu, meskipun mungkin rasanya perih. Orang yang hatinya sudah tertutup rapat akan melihat kebenaran itu sebagai gangguan, sebagai serangan, sebagai sesuatu yang harus dilawan.

Yang membuat saya sedikit tersenyum pahit adalah kenyataan bahwa kita semua, pada waktu-waktu tertentu, pernah menjadi lalat itu. Saya pernah. Mungkin Anda juga. Ada masa ketika nasihat yang benar datang, dan bukannya berterima kasih, kita justru sibuk mencari alasan untuk tidak mendengarnya. Kita merasa didikte, merasa direndahkan, merasa tidak dihargai. Padahal belum tentu begitu maksud si penyampai.

Sulitnya Meyakinkan Lalat

Bagian paling tidak nyaman dari pesan ini adalah pengakuannya: meyakinkan lalat bahwa bunga lebih indah daripada sampah itu sulit. Bukan mustahil, tapi sulit. Dan Imam Syafii, dengan segala kecerdasannya, sepertinya sudah menyadari hal ini sejak lama.

Beliau hidup di masa ketika perdebatan pemikiran sangat intens. Beliau berguru kepada Imam Malik di Madinah, belajar kepada ulama-ulama Irak, dan kemudian mengembangkan metodologi fikihnya sendiri yang sampai sekarang dipakai oleh ratusan juta muslim di dunia . Dalam perjalanan intelektualnya itu, beliau pasti bertemu dengan banyak orang. Ada yang mendengarkan dengan saksama, ada yang menolak mentah-mentah. Ada yang berdebat dengan santun, ada yang mencaci.

Dan dari pengalaman itulah, sepertinya, beliau sampai pada kesimpulan bahwa tidak semua orang bisa diajak melihat hal yang sama. Bukan karena kebenarannya kurang jelas, tapi karena sudut pandangnya sudah terlanjur berbeda.

Imam Syafii pernah mengatakan sesuatu yang saya rasa sangat relevan: "Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali aku berharap kebenaran muncul dari lisannya, bukan dari lisanku" . Beliau tidak sedang mencari kemenangan. Beliau sedang mencari kebenaran. Dan orang yang mencari kebenaran tidak akan terlalu peduli siapa yang menyampaikannya, apakah dirinya atau lawan bicaranya.

Jadi, Harus Bagaimana?

Kalau kita adalah si penyampai kebenaran, mungkin pesan Imam Syafii ini mengajarkan satu hal: jangan berharap semua orang akan bertepuk tangan. Jangan juga terlalu cepat menyerah hanya karena ada yang tersinggung. Tugas kita adalah menyampaikan dengan cara yang terbaik. Hasilnya, bukan urusan kita sepenuhnya.

Kalau kita adalah si penerima, mungkin pesannya lebih sederhana lagi: coba tunda reaksi defensif itu selama beberapa detik. Tanyakan pada diri sendiri, apakah yang membuat saya tersinggung ini benar adanya? Apakah saya marah karena isinya salah, atau karena isinya menyentuh sesuatu yang selama ini saya hindari?

Pada akhirnya, kebenaran tidak pernah kehilangan pembelanya. Ia hanya kadang datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, dengan cara yang mungkin kurang tepat. Tapi kalau kita percaya bahwa kebenaran itu punya daya tahan sendiri, maka kita bisa sedikit lebih tenang. Lalat akan tetap memilih sampah. Tapi bunga akan tetap mekar, apakah ada yang menghampirinya atau tidak.

Dan Imam Syafii, dengan segala warisannya yang masih hidup sampai hari ini, adalah bukti bahwa kebenaran yang disampaikan dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya sendiri. Meskipun pada awalnya, ada saja yang tersinggung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih baru Lebih lama