Namun, jika Anda terbang melintasi samudra dan singgah di perguruan tinggi al-Azhar, Kairo, atau di pesantren-pesantren besar di Malaysia dan Brunei, nama "Ibnu Harjo" disebut dengan nada hormat. Merekalah Mbah Riyan dan Ibnu Harjo adalah dua sisi dari koin yang sama. Seorang tukang bangunan yang juga merupakan seorang ulama muhaqqiq (pakar verifikasi kitab) dan mu’alliq (pemberi catatan kritis) yang diakui dunia internasional.
Antara Cangkul dan Pena
Kampung di Kudus itu memang terbiasa dengan kesederhanaan. Rumah-rumah warga berdiri kokoh berkat tangan-tangan terampil Mbah Riyan. Setiap hari, ia mengangkut batu bata, mengaduk semen, dan memasang keramik. Peluh bercucuran, namun tak pernah terdengar keluhan. Di sore hari, ia duduk di pinggir sungai, kailnya terlempar, matanya menerawang jauh.
Warga kampung mengira itu hanya kelelahan atau lamunan kosong. Padahal, di benak Mbah Riyan, saat itulah ia merangkai kalimat-kalimat ilmiah, mengkritisi pendapat ulama klasik, dan memecahkan teka-teki ushul fiqh yang rumit.
“Saya tidak pernah melihat beliau memegang kitab tebal di depan umum. Yang saya lihat hanya ember, cetok, dan pancing,” ujar Hartono, tetangga sebelah rumah Mbah Riyan. “Namun, suatu malam, saya diajak masuk ke rumahnya untuk mengambil kayu. Saya tercengang. Dinding rumahnya penuh rak buku yang berisi kitab-kuning tua. Di meja kecil, ada tumpukan kertas bertuliskan huruf Arab gundul dengan koreksi-koreksi di pinggirnya.”
Dunia Mbah Riyan adalah dunia kontras: di luar, ia bekerja dengan otot dan keringat; di dalam, ia berperang melawan teks-teks klasik dengan pikiran dan tinta.
Deretan Karya yang Mengguncang Dunia Ilmu
Siapa sangka, dari rumah berdinding papan itu, lahirlah lebih dari 100 naskah ilmiah dan 12 jilid kitab besar. Salah satu karyanya yang sering menjadi bahan diskusi para santri tingkat tinggi adalah kitab Al-Istihsan, Haqiqotuhu wa Hujjiyyatuhu, sebuah pembahasan mendalam tentang konsep "Istihsan" (menganggap baik suatu hal dalam hukum) yang menjadi perdebatan sengit antara madzhab Hanafi dan Syafi’i.
Namun, puncak kehati-hatian Mbah Riyan dalam berilmu terlihat dari karya-karya ta’liqat (catatan kaki kritis)-nya. Ia tidak menulis buku baru, melainkan menghidupkan kembali kitab-kitab tua yang hampir terlupakan, lalu memberinya suntingan, klarifikasi, dan koreksi yang tajam.
Berikut beberapa ta’liqat penting yang pernah al-faqir (saya, red.) baca:
Rodd Al-Hadits Al-Dlo’if bi Al-Kulliyyah Fitnah Kabiroh Mu’ashiroh – Sebuah kritik tajam tentang penggunaan hadis lemah dalam isu-isu kontemporer.
Dilalah Qorinah Al-Muwadlobah ‘Inda Al-Ushuliyyin – Sebuah analisis tentang petunjuk konteks (qorinah) dalam penetapan hukum.
Is’af Al-Mutholi’ (4 jilid untuk bab Ijtihad, Taqlid, Aqidah, dan Tasawuf) – Ini adalah catatan pinggir atas kitab karya Syaikh Mahfudz Al-Tarmasy Al-Jawy. Dalam catatannya, Mbah Riyan tidak segan-segan mengkritik gurunya sendiri demi kebenaran ilmiah.
Tahqiq Al-Kalimat fi Al-Ushul Al-Fiqhiyyat – Verifikasi atas kitab Syaikh Abul Hasan Al-Bakri.
Al-Taufiq Al-Jaliy Bain Al-Asy’ariy wa Al-Hambaliy – Sebuah catatan atas kitab Syaikh Abdul Ghoni Al-Nabulisy yang berusaha mendamaikan paham Asy’ariyah dan Hambali.
Cakupan ilmunya luas: dari akidah, tasawuf, hingga perdebatan teologis. Semua dikerjakan Mbah Riyan di sela-sela memikul karung semen.
Ilmu untuk Peradaban, Bukan Panggung
Mengapa Mbah Riyan memilih hidup sederhana meskipun nama "Ibnu Harjo" sudah harum di kancah internasional? Jawabannya sederhana: "Ilmu itu amanah, bukan dagangan."
Ia menolak beberapa tawaran mengajar di universitas ternama di Timur Tengah. Ia lebih memilih tetap di kampung halaman. Baginya, kemasyhuran adalah ujian terbesar. Jika ia menjadi terkenal, dikelilingi murid dan kamera, dikhawatirkan niatnya akan bergeser: dari mencari ridha Allah menjadi mencari pujian manusia.
“Mbah Riyan sering berpesan kepada saya ketika masih kecil, ‘Nak, jadilah seperti air. Ia mengalir ke tempat rendah dan memberi kehidupan. Jangan seperti asap yang naik ke atas lalu hilang,’” kenang Kiai Muda Hasan, salah satu santri yang pernah berguru secara diam-diam kepada Mbah Riyan.
Filosofi itulah yang dipegang teguh. Di dunia maya dan media sosial, namanya nyaris tak terdengar. Namun, di perpustakaan-perpustakaan besar, nama "Ibnu Harjo" terukir abadi di setiap lembar kitab yang ia sentuh.
Sebuah Cermin untuk Kita Semua
Kisah Mbah Riyan adalah tamparan lembut bagi kita yang seringkali terjebak pada penampilan luar. Betapa sering kita menghormati seseorang hanya karena jabatannya, gelarnya, atau kekayaannya. Kita lupa, bahwa kemuliaan sejati bisa bersembunyi di balik baju lusuh seorang pekerja bangunan atau nelayan biasa.
Ada pelajaran penting bagi anak muda:
Jangan meremehkan siapapun. Tukang bangunan di sebelah rumahmu mungkin hafal kitab Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib di luar kepala.
Tetaplah rendah hati. Mbah Riyan adalah contoh bahwa ilmu yang tinggi justru membuat seseorang semakin merunduk, seperti bulir padi yang semakin berisi semakin merunduk.
Keikhlasan itu mahal. Beliau mengajarkan bahwa menulis dan mengkaji ilmu cukup untuk kebahagiaan batin, tanpa perlu pengakuan sosial.
Dari Tembok Menuju Samudra Ilmu
Dari tangan seorang tukang bangunan, lahirlah rumah-rumah warga yang kokoh. Namun, dari tangannya pula yang sama kasar dan kapalan lahir karya-karya monumental yang menyeberangi lautan dan masa.
Masyarakat kampung mungkin hanya mengenalnya sebagai Mbah Riyan, si penggandrung ikan di sungai. Namun, sejarah akan mengenangnya sebagai Ibnu Harjo: ulama muhaqqiq yang ilmunya melintasi batas negeri, dan menjadi penerang bagi penuntut ilmu di seluruh dunia.
Kisah ini mengingatkan kita: Jangan pernah menilai buku dari sampulnya. Karena di balik tubuh yang tampak biasa, bisa jadi tersimpan lautan ilmu yang tak pernah kering.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
