Sidang isbat bukan sekadar penetapan tanggal, tetapi juga bentuk ikhtiar bersama untuk menjaga persatuan umat dalam menentukan waktu ibadah. Dalam prosesnya, pemerintah mengintegrasikan hasil perhitungan astronomi dan pengamatan hilal, sehingga keputusan yang diambil memiliki dasar ilmiah sekaligus syar’i. Ini menjadi pengingat bahwa dalam ibadah, ketelitian dan kebersamaan sama-sama penting.
Dengan ditetapkannya 1 Zulhijah pada 18 Mei 2026, maka 10 Zulhijah 1447 H atau Hari Raya Iduladha jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026 M. Tanggal ini menjadi penanda penting bagi umat Islam untuk mempersiapkan ibadah kurban, memperbanyak amal saleh, dan menghidupkan semangat pengorbanan yang diwariskan Nabi Ibrahim AS.
Awal Zulhijah juga memiliki makna spiritual yang besar. Bulan ini merupakan salah satu waktu terbaik bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, terutama puasa sunnah pada awal bulan, memperbanyak zikir, doa, sedekah, serta mempersiapkan diri menyambut hari Arafah dan Iduladha. Karena itu, datangnya Zulhijah bukan hanya soal penanggalan, melainkan momentum untuk memperbarui keimanan dan memperkuat kepedulian sosial.
Bagi kaum muslimin, penetapan awal Zulhijah 1447 H hendaknya disambut dengan hati yang lapang dan penuh syukur. Perbedaan metode dan proses penetapan tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan, melainkan ruang untuk saling menghormati. Yang lebih utama adalah bagaimana umat Islam memaknai bulan mulia ini dengan ibadah yang lebih khusyuk, ukhuwah yang lebih kuat, dan semangat berbagi yang lebih nyata.
Semoga datangnya Zulhijah 1447 H menjadi pengingat bagi kita semua untuk memperbanyak amal, menjaga persaudaraan, dan menyambut Iduladha dengan hati yang bersih. Mari jadikan bulan ini sebagai momen memperkuat iman, menumbuhkan kepedulian, dan meneladani semangat pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
