Perbandingan kejujuran karena takut


Antara Takut CCTV dan Takut Allah

CCTV membuat orang berlaku jujur karena takut ketahuan. Tapi ketika kamera mati atau tak terpantau, akhlak palsu itu runtuh. Ia akan curang, berbohong, atau mengambil hak orang lain tanpa beban. Inilah kejujuran semu: lahir dari rasa takut pada makhluk, bukan kesadaran hati.

Berbeda dengan orang yang senantiasa merasa diawasi Allah SWT. Ia jujur di mana pun, kapan pun, dalam keadaan sepi maupun ramai. Bukan karena takut rekaman, melainkan karena imannya bahwa Allah Maha Melihat. Tidak ada sudut gelap yang luput dari pengawasan-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu." (HR. Tirmidzi)

Orang seperti ini tidak akan korupsi meski tanpa saksi. Tidak akan menyontek walau pengawas lengah. Ia hidup dengan muraqabah—kesadaran bahwa setiap geraknya diketahui Allah. Imam Al-Ghazali berkata, "Muraqabah adalah mengetahui Allah selalu bersamamu, lalu engkau malu kepada-Nya."

Allah berfirman, "Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, meskipun terhadap dirimu sendiri." (QS. An-Nisa: 135)

CCTV bisa rusak dan mati. Tapi pengawasan Allah tak pernah padam. Maka jangan tanyakan, "Ada CCTV di sini?" Tapi tanyakan, "Apakah Allah melihatku?" Karena kejujuran karena Allah itulah yang abadi dan membawa berkah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih baru Lebih lama