Berikut adalah rangkuman sumber, asal-usul, dan interpretasi yang bisa Anda jadikan rujukan:
1. Asal Usul Kutipan (Sumber Dalil)
Kutipan ini secara luas disandarkan kepada Ali bin Abi Thalib r.a. (Sahabat Nabi dan Khalifah keempat). Meskipun sering dikutip dalam berbagai kajian, status sanadnya sering diperdebatkan oleh para ahli hadis, namun maknanya diakui secara aklamasi sebagai hikmah yang benar (maqolah).
Bunyi Populer:
"Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian."
Makna Inti: Metode pengajaran dan pendekatan harus berubah dinamis (fleksibel), namun nilai-nilai dasar (seperti akidah dan akhlak) tetap kokoh.
Rekomendasi Sumber Artikel & Bacaan
Berikut adalah klasifikasi artikel yang membahas topik ini dari berbagai sudut pandang yang bisa Anda cari dan baca:
Perspektif Psikologi & Parenting Modern
Artikel-artikel ini biasanya membahas bagaimana menjembatani "Gap Generasi" (misal: Orang tua Gen X/Millennial mengasuh anak Gen Z/Alpha).
Parentalk.id: "Alasan Mendidik Anak Sesuai Zamannya Itu Penting"
Fokus: Membahas teori ekologi perkembangan anak dan mengapa membandingkan masa kecil orang tua ("Dulu zaman Ibu...") tidak lagi efektif untuk kesehatan mental anak.
Ruang Keluarga (Wonderful Family Institute): "Ajari Anakmu Sesuai Zamannya"
Fokus: Membahas keseimbangan antara melonggarkan aturan teknis (seperti penggunaan gadget) dengan memperketat pengawasan nilai moral.
Perspektif Pendidikan & Era Digital
Sumber ini cocok jika Anda mencari referensi tentang penggunaan teknologi dan sekolah.
Kompasiana (Artikel Edukasi): "Mendidik Anak Sesuai dengan Zamannya di Era Digital"
Fokus: Menyoroti tantangan orang tua yang "gagap teknologi" menghadapi anak digital native. Artikel jenis ini menyarankan orang tua untuk "melek teknologi" agar bisa menjadi pembimbing, bukan sekadar melarang.
Media Ormas Islam (Nu Online / Suara Muhammadiyah):
Cari artikel dengan kata kunci "Tafsir Atsar Ali bin Abi Thalib tentang Pendidikan" di situs resmi mereka. Artikel di sini biasanya menyeimbangkan antara kemajuan zaman dengan benteng agama agar anak tidak hanyut dalam arus negatif modernisasi.
Perspektif Agama (Tafsir Mendalam)
Republika Khazanah: "Didiklah Anak Sesuai Zamannya"
Fokus: Mengulas bahwa "sesuai zaman" bukan berarti membolehkan segalanya (liberal), melainkan mengubah cara penyampaian (uslub). Contoh: Dulu anak diajar mengaji dengan rotan, sekarang dengan metode visual yang menyenangkan atau aplikasi.
Poin Penting untuk Penerapan Saat Ini
Berdasarkan berbagai sumber di atas, inti dari mendidik anak sesuai zamannya meliputi:
Ubah Cara, Bukan Rasa: Nilai sopan santun tetap sama, tapi cara menegurnya mungkin tidak lagi bisa dengan bentakan keras di depan umum, melainkan dengan diskusi dua arah (dialogis).
Literasi Digital: Orang tua harus masuk ke dunia anak (tahu apa itu TikTok, Game Online, AI) agar bisa memberikan arahan yang relevan ("relate"), bukan sekadar melarang buta.
Mempersiapkan Masa Depan: Fokus pada keterampilan yang dibutuhkan di masa depan anak (kritis, kreatif, kolaboratif), bukan memaksakan cita-cita usang milik orang tua.
Langkah selanjutnya untuk Anda: Apakah Anda ingin saya buatkan rangkuman tips praktis tentang cara menerapkan nasihat ini khusus untuk menghadapi tantangan spesifik, misalnya soal gadget atau motivasi belajar anak?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
