Rasulullah SAW sendiri memberikan kabar gembira kepada para sahabat tentang kedatangan Ramadan. Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad dan An-Nasa'i, beliau bersabda:
"Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu..."
Kegembiraan para sahabat saat menyambut Ramadan bukanlah tanpa alasan. Mereka memahami betul bahwa bulan ini adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah, dan meraih pahala berlipat ganda. Lantas, bagaimana cara kita meneladani kegembiraan tersebut di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern?
1. Memahami Hakikat Kebahagiaan dalam Menyambut Ramadan
Kebahagiaan menyambut Ramadan sejatinya lahir dari pemahaman yang mendalam tentang apa yang akan kita peroleh di bulan mulia ini. Bukan sekadar euforia menyambut tradisi tahunan, tetapi kebahagiaan karena:
Kesempatan bertaubat: Ramadan adalah waktu terbaik untuk membersihkan diri dari dosa-dosa masa lalu.
Pelatihan diri: Puasa melatih kita mengendalikan hawa nafsu, bukan hanya menahan lapar dan dahaga.
Solidaritas sosial: Ramadan mengajarkan kita merasakan lapar yang dirasakan saudara-saudara kita yang kurang mampu.
Ketika kesadaran ini tertanam dalam jiwa, maka menyambut Ramadan bukan lagi beban, melainkan sebuah anugerah yang patut disyukuri dengan penuh suka cita.
2. Ekspresi Kegembiraan yang Dianjurkan dalam Islam
Islam tidak melarang umatnya untuk mengekspresikan kebahagiaan. Justru, banyak cara positif yang bisa dilakukan untuk menyambut Ramadan dengan penuh suka cita:
a. Persiapan Spiritual: Memperbanyak Doa
Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika memasuki bulan Rajab dan Sya'ban adalah:
"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan." (HR. Ahmad)
Doa ini menunjukkan kerinduan dan harapan yang besar untuk bertemu kembali dengan Ramadan. Kebahagiaan seorang mukmin adalah ketika ia diberi kesempatan untuk kembali berjumpa dengan bulan penuh ampunan.
b. Persiapan Fisik: Menjaga Kesehatan
Kegembiraan menyambut Ramadan juga bisa diwujudkan dengan mempersiapkan fisik agar kuat menjalani ibadah. Mulai dari mengatur pola makan, berolahraga ringan, hingga membiasakan diri bangun lebih awal. Tubuh yang sehat akan mendukung kekhusyukan ibadah.
c. Persiapan Material: Berbagi dengan Sesama
Menyambut Ramadan dengan berbagi kebahagiaan kepada fakir miskin, anak yatim, atau tetangga yang membutuhkan adalah bentuk nyata dari kegembiraan. Memberi makan orang berbuka, menyumbangkan pakaian layak pakai, atau sekadar membantu meringankan beban orang lain akan melipatgandakan kebahagiaan kita.
d. Persiapan Lingkungan: Menciptakan Atmosfer Religius
Membersihkan masjid, menata rumah, atau bahkan menyiapkan sudut-sudut khusus untuk beribadah bisa menjadi cara sederhana namun bermakna. Lingkungan yang bersih dan nyaman akan menambah semangat beribadah sepanjang bulan Ramadan.
3. Menghindari "Kebablasan" dalam Kegembiraan
Kegembiraan tentu diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Namun, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai agar kebahagiaan kita tidak berubah menjadi kemubaziran:
Jangan terjebak pada aspek konsumtif: Menyambut Ramadan sering kali identik dengan belanja berlebihan, terutama bahan makanan. Padahal esensi Ramadan justru mengajarkan kesederhanaan.
Jadikan tradisi sebagai pendukung ibadah, bukan tujuan: Menyambut Ramadan dengan ziarah kubur, membersihkan masjid, atau tradisi lokal lainnya adalah baik, selama tidak menggeser substansi ibadah itu sendiri.
Kendalikan euforia di media sosial: Ekspresi kebahagiaan di dunia maya sah-sah saja, namun pastikan tetap dalam koridor syukur dan tidak berlebihan hingga pamer atau menyakiti hati orang lain.
4. Menjadikan Ramadan sebagai Momentum Perubahan Positif
Kebahagiaan sejati bukan hanya saat menyambut kedatangan Ramadan, tetapi juga ketika kita mampu mempertahankan semangat ibadah hingga akhir, dan bahkan setelah Ramadan berlalu. Bulan suci ini hendaknya menjadi titik tolak perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
Beberapa hal yang bisa kita rencanakan sejak awal:
Target ibadah yang realistis: Misalnya, target khatam Al-Qur'an, target salat berjamaah, atau target sedekah harian.
Menjaga lisan dan perilaku: Ramadan adalah madrasah yang mengajarkan kita untuk tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari ghibah, fitnah, dan perkataan sia-sia.
Membangun kedekatan dengan keluarga: Ramadan adalah momen tepat untuk mempererat silaturahmi, makan sahur bersama, dan saling memaafkan.
5. Menyambut dengan Hati yang Lapang
Pada akhirnya, menyambut Ramadan dengan kebahagiaan adalah cerminan dari kualitas keimanan seseorang. Ia tidak hanya datang dengan ritual fisik, tetapi juga dengan kesiapan mental dan spiritual.
Seperti kata seorang bijak:
"Barang siapa yang bersuka cita dengan datangnya Ramadan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka." (Sebagian ulama menukil sebagai hadits, namun lebih tepat sebagai maqalah atau perkataan hikmah)
Maka, mari kita sambut tamu agung ini dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan tekad yang kuat untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Mari kita isi Ramadan dengan amal-amal terbaik, karena kita tidak pernah tahu, mungkin inilah Ramadan terakhir kita.
Selamat menyambut Ramadan 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin. Mari kita jadikan bulan ini sebagai puncak kebahagiaan spiritual dan perubahan positif dalam hidup kita.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
